header photo

Desa Sidoharjo

Kecamatan Samigaluh Kabupaten Kulon Progo

|
  • English
  • |
  • Bahasa Indonesia  
  • |
  • Tradisi Masyarakat

    Tradisi Masyarakat

    Pedukuhan Nglambur adalah salah satu pedukuhan di desa Sidoharjo yang memiliki banyak kekayaan, baik dari kekayaan potensi alamnya, keindahan alam, hingga keunikan dari budaya masyarakat Nglambur.

    1.      Shalawatan

    Shalawatan merupakan salah satu budaya religius warisan nenek moyang yang sudah tidak dapat ditemui di sembarang tempat lagi. Nglambur merupakan salah satu wilayah yang masih sangat melestarikan budaya ini. Budaya Shalawat dikenal masyarakat Nglambur sejak tahun 1950-an dari masyarakat Mbudur Magelang.

    Shalawatan dipentaskan 1 tahun sebanyak 3 kali, yaitu:

    a.      Bulan Sapar (Rebo Wekasan/Rabu terakhir  bulan Sapar)

    b.      Malam 1 Suro

    c.       Bulan Besar (Jumat terakhir)

    Shalawatan yang dipakai di dusun Nglambur ini adalah Shalawat Dzikir Maulud, dengan kitab yang dipakai adalah kitab Al-Berjanji. Kitab ini merupakan kitab Jawa Arab. Dinamakan dzikir maulud karena dalam bacaannya mengandung kalimat dzikir dan maulud merupakan bulan lahirnya Nabi Muhammad SAW. Shalawatan Dzikir Maulud memiliki esensi yang sangat mulia, yaitu ‘Pecinta pada Rasulullah'.

    Shalawatan ini biasanya berlangsung dari pukul setengah 10 malam hingga pukul setengah 4 dini hari. Kita dapat menjumpai shalawatan ini pada hari hari pementasan yang telah di tentukan diatas atau jika terdapat hajatan dan nazar seseorang. Jumlah anggota shalawat sekitar 32 orang. Saat ini shlawat dzikir maulud diketahui oleh Sukiwiyono. Shalawatan ini melakukan gebyaran (latihan) setiap malam jumat kliwon.

    Pada tahun 1970-1980an terdapat tradisi yang unik jika seseorang akan di khitan. Sebelum dikhitan anak tersebut dikirab dari Nglambur hingga ke tempat khitan, yang pada waktu itu hanya terdapat di Samigaluh yang berjarak sekitar 7-8 Km, yang diiringi dengan Shalwat Dzikir Maulud ini. Sedangkan untuk Nazar, biasanya dipentaskan karena sesorang bernazar untuk diberikan kesembuhan dari sakit.

    Alat-alat yang digunakan untuk Shalawatan ini adalah 3 terbang, 1 dodok, dan 1 jedor, alat music ini sudah berumur lebih dari 50 tahun, akan tetapi suaranya masih sangat bagus.

    Untuk mengumpulkan orang untuk bershalawat ini ternyata sangat unik caranya. Alat musik yang bernama Jedor sebelum dibawa ketempat shalawat dipukul. Ini menandakan bahwa alat musik sudah mau berangkat ke tempat shalawat, sehingga mengingatkan masyarakat Nglambur untuk segera bergegas dating ke tempat shalawat. Kemudian setelah sampai di tempat shalawat jedor kembali dipukul, yang menandakan bahwa alat musik sudah sampai di tempat shalatan yang telah ditentukan.

    Disamping itu terdapat hal mistis yang terdapat dalam kebudayaan ini. Jadi biasanya orang yang tidak ikut bershalawat aka mendengar bunyi shalawat justru satu hari setelah shalawat dilakukan.

    2.      Mujahadah

    Mujahadah merupakan salah satu tradisi warisan dari nenek moyang kita. Mujahadah merupakan kegiatan yang biasanya dilakukan oleh umat islam, yaitu berkumpul bersama untuk mendoakan sanak sodara yang telah wafat mendahului kita.

    Uniknya di pedukuhan Nglambur ini masyarakat yang mengikuti mujahadah tidak hanya warga yang beragama muslim saja, akan tetapi warga nonmuslim juga berkumpul menjadi satu beribadah bersama dalam satu tempat dengan kepercayaannya masing-masing. Bahkan tidak hanya mengikuti , tetapi juga mengadakan mujahadah bagi warga yang beragama Islam jika memang sudah waktu gilirannya.

    Tidak hanya mujahadah, hingga pengajian akbarpun warga yang beragama minoritas nonmuslim ini sangat mendukung penuh acara seperti ini. Hal ini menjadi contoh real bagi kita tentang kerukunan umat beragama, ketenggangrasaan, dan rasa saling menghormati dan menghargai, untuk mewujudkan masyarakat yang harmonis. 

    3.      Istighosah

    Menurut sejarah, istighosah merupakan wujud ucapan syukur masyarakat Nglambur, khususnya yang beragama Islam karena ditemukannya tahun hijriyah.

    Istighosah biasanya disertai dengan ziarah ke makam dan membersihkan mata air-mata air yang berada di Nglambur (Kalijaro, Ngringin, dan Ngrandanan. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada malam Idul Fitri dan malam 1 suro. 

    4.      Rebana

    Rebana hampir mirip dengan Shalawatan, hanya alat musik yang digunakan untuk mengiringinya sudah menggunakan alat yang lebih modern, yaitu 4 terbang, 2 keyboard, 1 gitar bass, 1 ketipung, dan vocal.

    Tim rebana di dukuh Nglambur ini bernama Tariqu Nikmah. Tim rebana ini berlatih setiap slasa wage di musholla.

    Tim rebana yang terdiri dari remaja masjid ini telah menorahkan berbagai prestasi, diantaranya :

    a. Juara II (PC NU Kulon Progo)

    b. Juara III (Al finayah Borobudur)

    c. Juara I (Bersih desa Wonogiri)

     

     

    Links Partner

    Pemerintah Kabupaten Kulon Progo

    DPRD Kabupaten Kulon Progo

    Forum Binangun

    Wisata Alam Kalibiru

    Login